LEKAGUBUK Ubah Limbah Kertas Menjadi Gunung Berapi Edukatif
Replika tiga dimensi dari bubur kertas membantu siswa memahami fenomena letusan, reaksi kimia sederhana, kreativitas, dan pentingnya mendaur ulang limbah sekolah.

Simulasi letusan dilakukan pada replika gunung berapi yang dibuat dari bubur kertas. LEKAGUBUK menggabungkan pembelajaran sains, keterampilan prakarya, dan edukasi lingkungan melalui bahan sederhana seperti kertas bekas, botol plastik, soda kue, pewarna, dan cuka. Foto: Dokumentasi Program LEKAGUBUK
EMPAT LAWANG — Pemerintah Kabupaten Empat Lawang menghadirkan LEKAGUBUK sebagai inovasi pembelajaran sains berbasis proyek. Kertas bekas diolah menjadi replika gunung berapi, lalu digunakan untuk memperagakan letusan melalui reaksi sederhana yang mudah diamati siswa.
Materi mengenai struktur bumi dan gunung berapi sering disampaikan melalui buku teks dan penjelasan teoretis. Cara tersebut dapat membuat siswa sekolah dasar kesulitan membayangkan proses terjadinya letusan secara nyata. Pada saat yang sama, limbah kertas di lingkungan sekolah masih banyak yang belum dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.
Kondisi itu mendorong pengembangan LEKAGUBUK, singkatan dari Letusan Kreatif: Gunung dari Bubur Kertas. Inovasi ini mengolah kertas bekas menjadi replika gunung berapi yang dapat digunakan berulang kali untuk kegiatan eksperimen. Siswa tidak hanya mempelajari geologi, tetapi juga berlatih bekerja sama serta memahami nilai daur ulang.
| Pembelajaran sains menjadi lebih mudah dipahami ketika siswa membuat media sendiri, melakukan eksperimen, dan mengamati prosesnya secara langsung. |
Dari Kertas Bekas Menjadi Media Tiga Dimensi
Pembuatan media dimulai dengan mengumpulkan kertas bekas, seperti koran, buku tulis, atau kertas kantor. Kertas disobek kecil, direndam selama 24 jam, kemudian dihancurkan hingga menjadi bubur. Adonan diperas dan dicampur dengan lem kayu agar mudah dibentuk serta cukup kuat setelah kering.
Botol plastik bekas ditempatkan di tengah alas sebagai rangka inti sekaligus wadah simulasi magma. Bubur kertas ditempelkan lapis demi lapis di sekeliling botol hingga membentuk kerucut gunung. Bagian lubang atas tetap terbuka agar bahan eksperimen dapat dimasukkan ke dalam kawah.
Setelah bentuk selesai, replika dijemur sampai mengeras. Siswa kemudian mengecat permukaan gunung dengan warna yang menyerupai lingkungan pegunungan. Mereka juga dapat menambahkan miniatur pohon, rumah, atau hewan untuk melatih imajinasi spasial dan keterampilan seni.
Pendekatan tersebut membuat siswa terlibat sejak tahap pengolahan bahan, konstruksi, pewarnaan, hingga pengujian. Pembelajaran berbasis proyek ini menggabungkan aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif dalam satu kegiatan. Limbah yang semula tidak bernilai berubah menjadi alat peraga berbiaya rendah.
Simulasi Letusan dengan Bahan Dapur
Eksperimen dilakukan menggunakan soda kue, pewarna makanan merah, dan cuka. Soda kue serta pewarna dimasukkan ke botol yang menjadi kawah, kemudian cuka dituangkan secara perlahan. Reaksi yang terjadi menghasilkan busa berwarna menyerupai lava yang keluar dan mengalir di lereng gunung.
Guru memanfaatkan momen tersebut untuk menjelaskan konsep reaksi kimia sederhana dan tekanan gas. Siswa mengamati durasi letusan, jarak lelehan, serta perubahan yang terjadi pada replika. Hasil pengamatan dapat dicatat sebagai laporan praktikum sederhana dan dibahas bersama setelah simulasi.
Media dirancang agar aman digunakan dengan pengawasan guru dan bahan yang mudah diperoleh. Struktur botol di bagian dalam membuat replika dapat digunakan kembali tanpa harus membangun gunung baru setiap kali eksperimen. Setelah kegiatan selesai, siswa membersihkan sisa bahan dan menyimpan media sebagai pajangan atau alat peraga kelas.
Proyek Lima Minggu yang Mudah Direplikasi
Tahap inisiasi dimulai pada 7 Juli 2025 dengan menentukan kelas sasaran, materi, serta mengumpulkan limbah kertas. Pada 14 Juli, siswa memproses kertas menjadi adonan. Konstruksi gunung dilaksanakan pada 21 Juli, sedangkan pengeringan dan pewarnaan dilakukan mulai 28 Juli.
Simulasi letusan dan evaluasi dilaksanakan pada 4 Agustus 2025. Guru menilai ketahanan media setelah terkena cairan, keterlibatan siswa, serta kemampuan mereka menjelaskan proses eksperimen. Hasil penilaian menjadi dasar untuk memperbaiki bentuk, bahan, dan metode pelaksanaan pada proyek berikutnya.
Teknologi informasi digunakan sebagai pendukung melalui video tutorial, dokumentasi menggunakan telepon pintar, dan presentasi digital. Peluang pemanfaatan augmented reality apabila sarana memungkinkan. LEKAGUBUK diharapkan dapat direplikasi di sekolah lain sebagai pembelajaran sains yang kreatif, murah, dan peduli lingkungan.
Sumber: LEKAGUBUK (Letusan Kreatif: Gunung dari Bubur Kertas) Tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Empat Lawang.



Post Comment