Loading Now

PITA KUNING, Pijat Akupresur dan Temulawak Jadi Upaya Cegah Stunting di Glagah

PITA KUNING merupakan inovasi Puskesmas Glagah yang memadukan pijat titik akupresur dan pemanfaatan tanaman obat keluarga (toga) untuk membantu meningkatkan nafsu makan balita sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting. Foto: Referensi visual PITA KUNING.

Stunting masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang mendapat perhatian di Kabupaten Lamongan. Data bulan timbang 2022 yang dicantumkan dalam pedoman teknis menunjukkan angka stunting Kabupaten Lamongan sebesar 6,93 persen pada Februari dan 5,56 persen pada Agustus. Di Kecamatan Glagah, angka stunting pada bulan timbang Februari 2022 tercatat 9,10 persen. Pada tahun yang sama, Desa Pasi, Kentong, Rayunggumuk, dan Margoanyar menjadi empat desa lokus stunting di Kecamatan Glagah.

Berangkat dari kondisi tersebut, Puskesmas Glagah menghadirkan PITA KUNING atau Pijat Titik Akupresure dan Toga Guna Tingkatkan Nafsu Makan Cegah Stunting. Inovasi ini menggabungkan pelayanan kesehatan tradisional berupa pijat akupresur dengan pemanfaatan tanaman obat keluarga, khususnya temulawak. Pendekatan tersebut diarahkan untuk membantu meningkatkan nafsu makan balita dan memperbaiki status gizinya. PITA KUNING sekaligus menjadi bagian dari upaya pencegahan stunting berbasis masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang mudah dijumpai.

Temulawak dipilih karena dalam pedoman teknis disebut memiliki kandungan minyak atsiri dan kurkumin yang berperan dalam meningkatkan nafsu makan. Pemanfaatannya diperkenalkan kepada masyarakat melalui edukasi pengolahan toga menjadi olahan yang dapat digunakan dalam mendukung kesehatan balita. Sementara itu, pijat pada anak digunakan sebagai stimulasi yang diarahkan untuk membantu meningkatkan nafsu makan dan mendukung proses penyerapan makanan. Kombinasi dua pendekatan tersebut menjadi unsur kebaruan utama yang ditawarkan PITA KUNING.

Pelaksanaan inovasi dimulai melalui sosialisasi PITA KUNING kepada lintas sektor dan pembinaan kader kesehatan oleh tenaga kesehatan tradisional Puskesmas Glagah. Kader mendapatkan sosialisasi mengenai pijat bayi dengan sejumlah titik akupresur, antara lain Zhongwan (CV12), Zusanli (ST36), Sanyinjiao (SP6), Yongquan (KI1), Hegu (LI4), titik limpa, titik lambung, Ban Men, dan Nei Bagua. Edukasi serupa kemudian diberikan kepada ibu balita, termasuk dalam kegiatan Posyandu Desa Pasi, Kecamatan Glagah. Para ibu juga memperoleh edukasi mengenai pemanfaatan toga sebagai bagian dari upaya meningkatkan nafsu makan balita.

Peran kader tidak berhenti pada pemberian edukasi. Kader melakukan pemantauan dan evaluasi perkembangan tinggi badan dan berat badan balita, kemudian melaporkan hasil kegiatan kepada petugas kesehatan. Mekanisme tersebut membuat intervensi dapat diikuti dengan pemantauan pertumbuhan secara berkelanjutan. PITA KUNING juga dilaksanakan bersama Program Perkembangan 1 10 100 dari Pemerintah Daerah Kabupaten Lamongan sebagaimana dicantumkan dalam pedoman teknis.

Layanan PITA KUNING dirancang secara terintegrasi dengan melibatkan ibu balita, kader kesehatan, tenaga kesehatan tradisional, puskesmas, pemerintah daerah, serta dukungan lintas sektor. Selain dilakukan secara langsung di posyandu, penyampaian informasi dan pendampingan dapat didukung melalui media komunikasi digital. Pedoman teknis juga menjelaskan adanya kerja sama dengan pemerintah dan sektor swasta untuk menunjang kebutuhan logistik maupun finansial, termasuk ketersediaan tanaman toga dan bahan pendukung lainnya. Pendekatan ini diharapkan memperkuat keberlanjutan program sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat.

PITA KUNING tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan nafsu makan balita, tetapi juga meningkatkan pengetahuan keluarga mengenai gizi, penggunaan toga, dan teknik pijat akupresur. Pemanfaatan sumber daya lokal memberi ruang bagi masyarakat untuk lebih aktif dalam menjaga kesehatan anak di lingkungan keluarga. Keberhasilan program diarahkan untuk dilihat melalui perkembangan berat badan dan tinggi badan balita serta peningkatan pemahaman dan keterlibatan ibu dalam menjaga kesehatan anak. Dengan demikian, pencegahan stunting tidak hanya bertumpu pada pelayanan di fasilitas kesehatan, tetapi diperkuat melalui praktik yang dapat diterapkan di komunitas.

Melalui PITA KUNING, Puskesmas Glagah berupaya menghadirkan alternatif intervensi yang memadukan kesehatan tradisional dengan pemantauan pertumbuhan balita. Proses pelayanan inovasi dalam pedoman teknis disebut dapat dihasilkan dalam waktu satu hari, sementara proses penciptaan inovasinya berlangsung sekitar satu hingga tiga bulan. Integrasi pijat akupresur, pemanfaatan temulawak, edukasi keluarga, dan pemantauan oleh kader diharapkan berkontribusi terhadap perbaikan status gizi balita. Inovasi ini menjadi salah satu upaya berbasis komunitas dalam mendukung penurunan stunting di Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan.

Post Comment