BUDHE MANTU, Belajar Wirausaha Sambil Angkat Produk UMKM Desa Tlemang

Ilustrasi kegiatan Market Day siswa sekolah dasar sebagai pembelajaran kewirausahaan, sejalan dengan konsep BUDHE MANTU yang melibatkan siswa sebagai penjual produk dalam kegiatan Business Day di sekolah. Foto: Dokumentasi kegiatan Market Day.
Pembelajaran kewirausahaan di SDN 1 Tlemang, Kecamatan Ngimbang, dikembangkan melalui inovasi BUDHE MANTU atau Businness Day Tlemang Satu. Program ini lahir dari dua potensi yang tumbuh bersamaan, yakni banyaknya UMKM di Desa Tlemang dan kebiasaan sejumlah siswa yang secara spontan berjualan di lingkungan sekolah. Guru melihat kondisi tersebut bukan sekadar aktivitas jual beli, melainkan peluang untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. BUDHE MANTU kemudian menjadi wadah bagi siswa untuk mempraktikkan keterampilan berwirausaha sekaligus mengenal produk lokal dari desa mereka sendiri.
Program ini sejalan dengan penerapan Kurikulum Merdeka melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau P5 bertema kewirausahaan. Siswa tidak hanya mempelajari konsep usaha dari penjelasan di kelas, tetapi juga terlibat langsung sebagai penjual dalam kegiatan yang digelar satu bulan sekali. Pengalaman tersebut melatih kemampuan komunikasi, negosiasi, pengelolaan waktu, serta keberanian menghadapi pembeli. Dengan praktik langsung, pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa belajar mengambil keputusan dan menyelesaikan persoalan sederhana dalam kegiatan jual beli.
Pelaksanaan BUDHE MANTU melibatkan enam mitra UMKM lokal yang menyetorkan produk untuk dipasarkan oleh siswa. Produk tersebut kemudian dijual di masing-masing kelas maupun dalam kegiatan yang dilaksanakan di lapangan SDN 1 Tlemang setiap hari Jumat sesuai jadwal bulanan. Tidak hanya siswa SDN 1 Tlemang, pembeli juga dapat berasal dari siswa KB, TK, dan masyarakat Desa Tlemang. Keterlibatan berbagai kelompok ini menciptakan suasana pasar kecil yang mempertemukan pendidikan, masyarakat, dan ekonomi lokal dalam satu kegiatan.
Siswa memperoleh peran nyata sebagai penjual sehingga mereka belajar bagaimana menawarkan produk, berkomunikasi dengan calon pembeli, dan mengatur transaksi. Pedoman teknis mencatat bahwa sebagian hasil penjualan dialokasikan sebesar 5 persen untuk sekolah dan 10 persen untuk kas kelas masing-masing. Mekanisme tersebut memberi pengalaman sederhana tentang pembagian hasil sekaligus mengajarkan tanggung jawab terhadap pendapatan yang diperoleh. Kegiatan ini juga memotivasi siswa untuk bekerja sama dengan teman sekelas agar produk yang dipasarkan dapat terjual dengan baik.
Pemanfaatan teknologi ikut mendukung pemasaran BUDHE MANTU. Admin program menginformasikan produk yang akan dijual melalui media sosial dan WhatsApp sebelum kegiatan berlangsung, sehingga masyarakat dapat mengetahui pilihan produk lebih awal. Pembeli juga dapat melakukan pemesanan terlebih dahulu melalui WhatsApp dan mengambil pesanannya langsung di sekolah pada saat kegiatan. Cara ini memperkenalkan kepada siswa bahwa pemasaran tidak hanya dilakukan secara tatap muka, tetapi juga dapat memanfaatkan media digital untuk memperluas jangkauan informasi.
Bagi UMKM Desa Tlemang, program ini menjadi ruang promosi sekaligus kesempatan memperkenalkan produk kepada lingkungan sekolah dan masyarakat yang lebih luas. Kolaborasi dengan sekolah membantu produk lokal tampil dalam kegiatan yang rutin dan memiliki sasaran pembeli yang jelas. Di sisi lain, siswa mengenal secara langsung potensi ekonomi yang tumbuh di lingkungan tempat tinggal mereka. Hubungan timbal balik tersebut memperkuat posisi sekolah sebagai bagian dari masyarakat yang tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga ikut mendorong pemberdayaan ekonomi lokal.
BUDHE MANTU juga mendorong tumbuhnya kreativitas dan keberanian siswa ketika menghadapi tantangan dalam proses berjualan. Siswa belajar memikirkan cara menarik minat pembeli, memahami harga, mengenalkan produk, dan berkomunikasi secara santun selama transaksi. Pengalaman ini menjadi bekal awal bagi pembentukan jiwa kewirausahaan sekaligus karakter mandiri, percaya diri, dan bertanggung jawab. Antusiasme siswa dan masyarakat menjadi modal penting agar kegiatan dapat terus dikembangkan sebagai pembelajaran berbasis pengalaman nyata.
Pedoman teknis mencatat bahwa mekanisme pelayanan inovasi dapat menghasilkan proses dalam waktu satu hari, sementara proses penciptaan inovasi dirancang dalam rentang sekitar satu hingga tiga bulan. Tahapannya meliputi identifikasi kebutuhan, perancangan, uji coba, peluncuran, monitoring, dan evaluasi agar program dapat terus disesuaikan dengan kebutuhan sekolah serta mitra UMKM. Dengan menggabungkan pendidikan kewirausahaan, promosi digital, peran aktif siswa, dan kolaborasi dengan pelaku usaha desa, BUDHE MANTU menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kehidupan masyarakat. Inovasi ini diharapkan terus memperkuat keterampilan siswa sekaligus ikut mengenalkan dan menggerakkan produk UMKM Desa Tlemang.
Sumber bahan: BUDHE MANTU (Businness Day Tlemang Satu), Kabupaten Lamongan, 2023; serta portal resmi Pemerintah Kabupaten Lamongan.



Post Comment