MANJA PAPAKU Hadirkan Cara Aman Memandikan JenazahTanpa Dipangku untuk Cegah Penularan Penyakit

Lamongan – Puskesmas Turi Kabupaten Lamongan mengembangkan inovasi MANJA PAPAKU (Memandikan Jenazah Tanpa Dipangku) sebagai upaya meningkatkan keamanan dalam pemulasaraan jenazah, terutama ketika terdapat risiko penyakit menular. Inovasi ini berangkat dari kebutuhan meningkatkan kapasitas modin dan petugas pemulasaraan agar mampu menjalankan kewajiban keagamaan tanpa mengabaikan keselamatan kesehatan. Praktik memandikan jenazah yang sebelumnya dilakukan dengan posisi sangat dekat atau dipangku berpotensi meningkatkan kontak dengan cairan tubuh. MANJA PAPAKU kemudian menawarkan metode yang lebih higienis dengan meminimalkan kontak langsung antara petugas dan jenazah.
Pedoman teknis MANJA PAPAKU menempatkan keselarasan antara tuntunan agama dan protokol kesehatan sebagai prinsip utama. Petugas tetap dapat memandikan jenazah sesuai syariat, namun menggunakan alat pelindung diri, sarana pemandian yang aman, serta prosedur sterilisasi yang lebih terkontrol. Pendekatan tersebut penting ketika jenazah terindikasi atau terkonfirmasi mengalami penyakit menular. Melalui pemahaman yang tepat, petugas dapat menjalankan tugas dengan lebih percaya diri sekaligus mengurangi risiko paparan infeksi.
Kebaruan MANJA PAPAKU terlihat pada penggunaan meja atau bak pemandian khusus yang dirancang agar jenazah tidak perlu dipangku. Permukaan sarana dibuat tahan air, mudah dibersihkan, tidak berpori, dan memiliki kemiringan untuk membantu aliran air menuju saluran pembuangan. Sistem pembasuhan dapat menggunakan selang atau nozzle sehingga arah dan tekanan air lebih mudah dikendalikan. Peralatan bantu seperti spons bertangkai, sikat halus berpegangan panjang, dan penjepit juga dapat digunakan untuk mengurangi kontak fisik langsung.
Aspek perlindungan petugas turut menjadi perhatian dalam pelaksanaan inovasi ini. Penggunaan APD lengkap, termasuk sarung tangan dan pelindung wajah, menjadi bagian penting dalam proses pemulasaraan. Posisi meja dirancang agar petugas dapat bekerja dengan lebih ergonomis tanpa harus terus membungkuk atau mendekatkan tubuh ke jenazah. Setelah proses selesai, meja, alat bantu, dan area kerja dibersihkan serta didisinfeksi agar dapat digunakan kembali secara aman.
Publikasi RISDA Kabupaten Lamongan pada 15 Juli 2025 mencatat bahwa MANJA PAPAKU dikembangkan Puskesmas Turi untuk meningkatkan kapasitas modin jenazah dalam menangani jenazah penyakit menular. Program diperkuat melalui kolaborasi dengan aparatur desa, tokoh masyarakat, dan lintas sektor untuk mendukung ketersediaan APD serta bak mandi jenazah. Pelatihan kepada modin, sosialisasi, dan pertemuan koordinasi berkala menjadi bagian dari strategi keberlanjutan. Dukungan tersebut membuat inovasi tidak berhenti pada penyediaan alat, tetapi juga memperkuat keterampilan petugas di lapangan.
Pelaksanaan MANJA PAPAKU didukung sumber daya yang cukup luas. RISDA mencatat adanya 76 modin jenazah, 19 bidan desa, dan 18 ambulans desa yang mendukung ekosistem pelaksanaan program. Pembiayaan disebut berasal dari anggaran BOK sebesar Rp8,4 juta dan swadaya masyarakat sekitar Rp2 juta per tahun. Pemantauan terhadap kondisi APD dan pelaporan kasus juga dilakukan untuk menjaga kesiapan pelayanan.
Dampak program terlihat dari peningkatan kapasitas dan perubahan praktik pemulasaraan jenazah. Data yang dipublikasikan RISDA menunjukkan 95 persen modin jenazah telah terlatih pada 2020, sebanyak 77 persen desa memiliki APD pada 2021, dan praktik pemandian jenazah tanpa dipangku mencapai 82 persen. Evaluasi juga mencatat peningkatan kapasitas modin sebesar 86 persen dan tingkat kepuasan masyarakat mencapai 93 persen. Selama pelaksanaan yang dilaporkan, tidak ditemukan kasus penularan infeksi yang berasal dari proses pemandian jenazah.
Melalui MANJA PAPAKU, Puskesmas Turi menunjukkan bahwa inovasi pelayanan kesehatan dapat berjalan beriringan dengan nilai keagamaan dan kebutuhan sosial masyarakat. Metode pemandian tanpa dipangku membantu petugas bekerja lebih aman, higienis, dan bermartabat tanpa mengurangi penghormatan terhadap jenazah. Program ini juga membantu mengurangi kekhawatiran serta stigma dalam penanganan jenazah dengan penyakit menular. Dengan penguatan pelatihan, ketersediaan sarana, dan kolaborasi lintas sektor, MANJA PAPAKU berpotensi menjadi praktik baik yang dapat diterapkan lebih luas.



Post Comment