MANJA BANGET, Olahan Mujair dan Bandeng Jadi Senjata Lokal Cegah Stunting di Karangbinangun
Kecamatan Karangbinangun, Kabupaten Lamongan, mengembangkan MANJA BANGET atau Makan Mujair dan Bandeng Cegah Stunting sebagai inovasi berbasis pangan lokal untuk memperkuat pemenuhan gizi balita. Program yang dilaksanakan melalui wilayah kerja Puskesmas Karangbinangun ini menempatkan ikan mujair dan bandeng sebagai sumber protein hewani yang mudah dijumpai masyarakat. Kehadiran inovasi tersebut berangkat dari persoalan stunting yang masih ditemukan pada balita di wilayah setempat. Pada Februari 2021 tercatat 116 balita stunting di wilayah Puskesmas Karangbinangun, sehingga diperlukan intervensi yang dekat dengan kebiasaan dan sumber daya masyarakat.
Potensi perikanan menjadi kekuatan utama yang dimanfaatkan dalam MANJA BANGET. Wilayah Puskesmas Karangbinangun memiliki kawasan sawah tambak seluas sekitar 23.753.200 meter persegi, sementara Lamongan merupakan daerah penghasil bandeng dan mujair. Kondisi tersebut membuat pemanfaatan ikan lokal dinilai relevan untuk membantu meningkatkan konsumsi protein hewani pada balita. Program ini sekaligus mendorong keluarga agar tidak selalu bergantung pada bahan pangan yang mahal untuk memenuhi kebutuhan protein anak.
Pelaksanaan MANJA BANGET tidak berhenti pada ajakan mengonsumsi ikan. Orang tua dan pengasuh mendapatkan edukasi mengenai pemberian makanan bayi dan anak yang bergizi, terutama makanan kaya protein hewani. Kegiatan di posyandu dilengkapi contoh menu berbahan dasar mujair dan bandeng serta demonstrasi cara pengolahannya. Sup mujair, fillet bandeng, dan berbagai olahan lain diperkenalkan agar keluarga mempunyai pilihan menu yang bergizi sekaligus menarik bagi anak.
Pendekatan program kemudian diperluas dari kegiatan yang sebelumnya berlangsung di Desa Windu dan berpusat di posyandu. MANJA BANGET dikembangkan ke beberapa desa serta dilengkapi kunjungan rumah bagi balita stunting. Melalui kunjungan tersebut, edukasi gizi dapat diberikan lebih dekat kepada keluarga sasaran dan penerapan pola makan anak dapat dipantau secara berkelanjutan. Perluasan layanan ini menjadi unsur pembaruan agar intervensi tidak hanya menunggu keluarga datang ke tempat pelayanan.
Kegiatan pelatihan juga diarahkan pada keterampilan praktis mengolah ikan dengan tetap mempertahankan nilai gizinya. Tenaga kesehatan dan ahli gizi memberikan pendampingan mengenai pemilihan bahan, teknik pengolahan, serta penyajian makanan yang sesuai untuk anak. Peserta diberi kesempatan mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh, kemudian mendapatkan tindak lanjut berupa resep maupun tips memasak ketika diperlukan. Evaluasi dan umpan balik digunakan untuk melihat penerapan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
MANJA BANGET juga mengandalkan keterlibatan masyarakat untuk memperluas pesan mengenai pentingnya gizi anak. Tokoh masyarakat dan lembaga lokal dilibatkan dalam kegiatan edukasi dan kampanye kesadaran, sementara penyampaian informasi dapat diperkuat melalui media sosial, selebaran, dan kegiatan komunitas. Dengan pola ini, pencegahan stunting ditempatkan sebagai tanggung jawab bersama yang membutuhkan perubahan perilaku keluarga. Pemanfaatan mujair dan bandeng sekaligus memperkuat hubungan antara intervensi kesehatan dan potensi ekonomi lokal.
Melalui kombinasi edukasi gizi, demonstrasi pengolahan makanan, kunjungan rumah, serta pemantauan, MANJA BANGET diarahkan untuk meningkatkan kualitas asupan balita dan menurunkan risiko stunting. Program ini menunjukkan bahwa sumber pangan yang tersedia di sekitar masyarakat dapat menjadi bagian penting dari solusi kesehatan apabila diikuti pengetahuan dan praktik pengolahan yang tepat. Inovasi tersebut juga mendorong keluarga membangun kebiasaan makan sehat secara lebih mandiri dan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan kekuatan lokal Karangbinangun, MANJA BANGET diharapkan membantu memperbaiki status gizi dan kualitas tumbuh kembang anak.



Post Comment