Loading Now

SIAP GRAK Perkuat Skrining TBC AnakBerisiko Gizi Kurang di Puskesmas Glagah

Lamongan – Puskesmas Glagah Kabupaten Lamongan mengembangkan inovasi SIAP GRAK (Screening Tuberculosis Anak Pada Gizi Kurang dan Faktor Resiko Lain) sebagai upaya memperkuat deteksi dini tuberkulosis pada anak dan remaja yang memiliki risiko tinggi. Program ini diarahkan terutama kepada anak dengan gizi kurang, stunting, riwayat kontak erat dengan pasien TBC paru terkonfirmasi bakteriologis, maupun faktor risiko lain yang relevan. Skrining dilakukan agar dugaan infeksi dapat ditemukan lebih cepat sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih berat. Melalui pendekatan tersebut, Puskesmas Glagah berupaya menekan keterlambatan diagnosis sekaligus mempercepat akses terhadap pengobatan maupun terapi pencegahan TBC.

Pengembangan SIAP GRAK dilatarbelakangi meningkatnya beban TBC anak secara nasional. Pedoman teknis mencatat jumlah kasus TBC nasional meningkat dari 724.309 kasus pada 2022 menjadi 821.200 kasus pada 2023. Pada kelompok usia 0–14 tahun, kasus juga meningkat dari 69.926 menjadi 78.566 pada periode yang sama. Kondisi ini menunjukkan bahwa anak tetap menjadi kelompok rentan yang membutuhkan perhatian, terutama karena infeksi pada bayi dan balita dapat berkembang menjadi TBC berat yang menimbulkan kecacatan maupun kematian.

Sasaran SIAP GRAK mencakup anak dan remaja berusia kurang dari 18 tahun yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC, infeksi HIV, gejala TBC, gizi kurang, maupun stunting. Gejala yang menjadi perhatian antara lain batuk, demam, berat badan turun atau menetap, berkeringat malam, pembesaran kelenjar limfa, serta kelainan tulang atau sendi. Orang tua atau wali juga dilibatkan melalui persetujuan sebelum anak mengikuti proses skrining. Pendekatan ini membantu memastikan proses deteksi dini dilakukan secara terarah pada kelompok yang benar-benar memiliki risiko.

Tahap pemeriksaan dilakukan secara sistematis mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, penilaian status gizi, hingga pemeriksaan penunjang sesuai kebutuhan. Anak yang menunjukkan hasil skrining positif akan dinilai lebih lanjut oleh dokter untuk menentukan apakah masuk kategori terduga TBC anak. Penegakan diagnosis dapat memanfaatkan pemeriksaan bakteriologis, uji kulit tuberkulin, IGRA, maupun rontgen toraks sesuai kondisi klinis dan fasilitas yang tersedia. Pada anak, diagnosis memang membutuhkan kehati-hatian karena jumlah kuman dapat sedikit dan pengambilan sputum tidak selalu mudah, khususnya pada balita.

Kebaruan SIAP GRAK terletak pada fokus skrining aktif terhadap anak dengan masalah gizi dan faktor risiko lain, bukan hanya menunggu pasien datang dengan keluhan ke fasilitas kesehatan. Penemuan aktif dilakukan melalui identifikasi dan pemeriksaan sistematis kepada anak dan remaja yang berisiko di luar fasilitas kesehatan, sedangkan penemuan pasif tetap dilakukan pada anak yang datang ke layanan kesehatan dengan gejala atau tanda TBC. Kombinasi kedua pendekatan tersebut memperluas peluang menemukan kasus lebih awal. Skrining gejala juga dapat dipadukan dengan pemeriksaan rontgen toraks sesuai indikasi.

Program SIAP GRAK juga mendukung pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis atau TPT kepada anak dan remaja yang terinfeksi tetapi belum sakit TBC. Langkah ini penting untuk menurunkan risiko berkembangnya infeksi menjadi penyakit aktif. Pedoman teknis menempatkan peningkatan temuan kasus TBC, peningkatan temuan infeksi, peningkatan cakupan TPT, serta penurunan kesakitan, kecacatan, dan kematian sebagai tujuan utama inovasi. Dengan deteksi dan intervensi lebih cepat, risiko hasil pengobatan yang buruk serta dampak sosial dan ekonomi bagi keluarga dapat dikurangi.

SIAP GRAK dikembangkan selama empat bulan, mulai November 2023 hingga Februari 2024. Tahap awal mencakup identifikasi masalah, pembentukan tim, dan penyusunan konsep, kemudian dilanjutkan dengan pengembangan metode skrining, kriteria gizi kurang dan faktor risiko, serta algoritma pemeriksaan. Januari 2024 digunakan untuk uji coba terbatas, pengumpulan umpan balik, dan penyempurnaan, sedangkan Februari 2024 memasuki tahap implementasi yang lebih luas disertai monitoring dan evaluasi. Program kemudian terus dijalankan dan disempurnakan sesuai kebutuhan pelayanan.

Publikasi RISDA Kabupaten Lamongan pada 14 Juli 2025 menggambarkan SIAP GRAK sebagai upaya Puskesmas Glagah melindungi anak dari TBC melalui skrining aktif dan pemeriksaan lanjutan. Dalam publikasi tersebut disebutkan bahwa sejumlah anak berhasil terdeteksi lebih dini, sebagian memulai terapi pencegahan, dan dua anak didiagnosis TBC aktif sehingga dapat segera memperoleh penanganan medis. Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya skrining pada anak dengan gizi kurang dan kelompok berisiko. Melalui SIAP GRAK, Puskesmas Glagah memperkuat layanan kesehatan anak sekaligus mendukung target eliminasi TBC dengan deteksi, pencegahan, dan penanganan yang lebih dini.

Post Comment