Loading Now

KLASTER MANIS MANJA Kendalikan Hipertensi dan Diabetes PLewat Prolanis Terpadu di Mangunjaya

Bekasi – UPTD Puskesmas Mangunjaya mengembangkan inovasi KLASTER MANIS MANJA atau Kelompok Sehat Terkendali Bersama Prolanis Mangunjaya untuk memperkuat pengendalian penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes melitus. Program ini dirancang agar peserta Prolanis tidak hanya datang untuk memperoleh obat, tetapi juga mendapatkan pemantauan kesehatan, edukasi, aktivitas fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pendampingan pengobatan secara berkelanjutan. Inovasi tersebut berangkat dari masih rendahnya rasio peserta Prolanis terkendali di Puskesmas Mangunjaya pada 2022 yang rata-rata hanya 0,32 persen. Melalui pendekatan terpadu, kondisi kesehatan peserta diharapkan lebih terpantau dan risiko komplikasi dapat ditekan sejak dini.

Pelaksanaan KLASTER MANIS MANJA menggabungkan sejumlah layanan dalam satu pola pendampingan yang teratur. Peserta memperoleh pemeriksaan fisik dua kali dalam sebulan, pemeriksaan gula darah puasa satu kali sebulan, serta pemeriksaan HbA1c, kimia darah, dan fungsi ginjal secara berkala melalui kerja sama dengan laboratorium eksternal. Edukasi mengenai hipertensi dan diabetes diberikan sedikitnya satu kali setiap bulan, baik secara tatap muka maupun melalui media sosial dan grup WhatsApp. Dengan pola tersebut, peserta mendapat informasi sekaligus pemantauan klinis yang lebih lengkap untuk membantu menjaga tekanan darah dan kadar gula tetap terkendali.

Aktivitas fisik menjadi bagian penting dalam inovasi ini karena perubahan gaya hidup dinilai berperan besar terhadap meningkatnya penyakit tidak menular. Puskesmas Mangunjaya menyelenggarakan senam dan jalan santai secara rutin dengan pendampingan instruktur bersertifikat agar aktivitas dilakukan dengan aman dan sesuai kemampuan peserta. Setelah kegiatan senam, peserta juga dapat mengikuti konsultasi khusus dengan dokter Prolanis untuk membahas hasil pemeriksaan maupun keluhan kesehatan. Pendampingan itu diperkuat dengan pesan pengingat minum obat yang dikirim setiap hari melalui grup WhatsApp peserta Prolanis.

Capaian program menunjukkan adanya peningkatan jumlah peserta yang memperoleh layanan dari tahun ke tahun. Pada 2024, layanan Prolanis menjangkau 262 pasien diabetes melitus dan 407 pasien hipertensi, kemudian pada 2025 jumlahnya meningkat menjadi 283 pasien diabetes melitus dan 443 pasien hipertensi. Frekuensi kegiatan juga ditingkatkan, dari semula dua minggu sekali pada 2024 menjadi setiap minggu pada 2025. Kenaikan jumlah peserta tersebut memperlihatkan semakin luasnya masyarakat dengan penyakit kronis yang dapat dijangkau oleh pelayanan terpadu Puskesmas Mangunjaya.

Perbaikan juga terlihat pada rasio peserta Prolanis yang kondisinya terkendali. Data pcare Puskesmas Mangunjaya mencatat rata-rata rasio Prolanis terkendali sebesar 0,49 persen pada 2023, meningkat dibandingkan rata-rata 0,32 persen pada 2022. Pada periode Januari hingga Mei 2024, rata-rata rasio tersebut kembali naik menjadi 2,62 persen dan pada Mei mencapai 5,92 persen. Capaian pada Mei 2024 telah melewati target rasio Prolanis terkendali yang ditetapkan lebih dari 5 persen.

Pelaksanaan inovasi juga ditopang kolaborasi lintas profesi dan lintas lembaga. Di internal puskesmas, kegiatan melibatkan dokter, pengelola Prolanis, pemegang program penyakit tidak menular, petugas laboratorium, apoteker, perawat, dan petugas promosi kesehatan. Puskesmas juga bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, kader, instruktur senam, pemerintah desa, serta Laboratorium Cakra untuk pemeriksaan HbA1c dan kimia darah. Kolaborasi tersebut membantu memastikan peserta memperoleh layanan yang lebih komprehensif, mulai dari edukasi dan pemeriksaan hingga tindak lanjut pengobatan.

Melalui KLASTER MANIS MANJA, Puskesmas Mangunjaya berupaya mengubah pengelolaan penyakit kronis menjadi pelayanan yang lebih aktif, teratur, dan berorientasi pada pencegahan komplikasi. Peserta didorong untuk lebih memahami kondisi kesehatannya, menjaga pola hidup, rutin beraktivitas fisik, menjalani pemeriksaan, serta mematuhi pengobatan. Model ini juga memberikan ruang bagi tenaga kesehatan untuk memantau perkembangan pasien secara lebih konsisten dan mengambil tindak lanjut lebih cepat ketika ditemukan kondisi yang tidak terkendali. Dengan pelaksanaan yang berkelanjutan, inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup penderita hipertensi dan diabetes melitus serta memperkuat pelayanan kesehatan primer di Kabupaten Bekasi.

Post Comment